Okewal.com, SANGATTA – Kritik terhadap pemerintah tak selalu berujung pada konflik. Pemerintah Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), justru menunjukkan sikap berbeda dengan memberikan penghargaan kepada aktivis yang selama ini dikenal vokal mengkritisi kebijakan publik dan menyuarakan persoalan lingkungan.
Adalah Erwin Febrian Syuhada, aktivis yang berdomisili di Swarga Bara, yang menerima penghargaan dalam Swarga Bara Awards 2026. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian Swargabara Merdeka Fest 2026 di Lapangan Kabo Jaya, Senin (17/8) malam.
Erwin dikenal cukup aktif menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan publik, termasuk isu lingkungan. Namun, sikap kritis tersebut justru dipandang sebagai bagian dari kepedulian terhadap pembangunan desa.
Kepala Desa Swarga Bara Wahyuddin Usman mengatakan, pihaknya tidak melihat kritik Erwin sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Sebaliknya, keberanian menyampaikan kondisi di lapangan dinilai penting, terutama bagi generasi muda.
“Kalau Bang Erwin sendiri kebetulan memang domisilinya di Swarga Bara. Track record-nya juga kami ikuti. Bagi saya, plus-minusnya itu bagian dari proses. Seorang pemuda memang harus kritis dalam proses pembangunan,” ujarnya.
Menurut Wahyuddin, kedekatan seseorang dengan pemerintah tidak semestinya membuatnya kehilangan keberanian untuk menyampaikan fakta yang ditemukan di lapangan.
“Jangan hanya karena kita dekat dengan salah satu instansi atau siapa pun, kemudian kita memilih diam melihat kenyataan atau fakta di lapangan,” tuturnya.
Ia menegaskan, penghargaan yang diberikan kepada Erwin bukan karena hubungan personal. Pemerintah desa, kata dia, lebih mempertimbangkan gagasan dan tujuan yang diperjuangkan, termasuk ketika berkaitan dengan persoalan lingkungan.
“Kalau berbicara lingkungan, kita tidak melihat personalnya. Kita melihat apa maksud dan tujuan yang disampaikan, apa yang ingin diperjuangkan,” jelasnya.
Wahyuddin menyebut persoalan lingkungan masih menjadi pekerjaan bersama di Swarga Bara. Salah satunya terkait sampah yang dihasilkan dari aktivitas masyarakat.
Karena itu, ia berharap berbagai program Pemerintah Kabupaten Kutim di bidang lingkungan juga dapat diterapkan hingga ke tingkat desa.
Bagi Erwin, penghargaan tersebut memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar apresiasi pribadi. Ia melihat keputusan pemerintah desa memberikan penghargaan kepada seorang aktivis yang selama ini menyuarakan isu lingkungan sebagai tanda mulai tumbuhnya perhatian terhadap persoalan lingkungan.
“Bagi saya, apresiasi ini bukan sekadar soal penghargaan kepada saya. Yang jauh lebih penting adalah desa masih punya kepedulian terhadap kondisi lingkungan. Menurut saya, ini sebuah loncatan besar karena masih ada desa yang mau peduli dan memberikan ruang terhadap isu lingkungan,” kata Erwin.
Ia menilai persoalan lingkungan tidak cukup hanya dibicarakan ketika masalah muncul. Kesadaran pemerintah desa, menurut Erwin, menjadi bagian penting untuk mendorong perubahan di tengah masyarakat.
“Jadi, saya melihat ini bukan sekadar penghargaan. Ada pesan yang lebih besar, yaitu adanya kesadaran bahwa lingkungan memang harus diperhatikan. Itu yang menurut saya jauh lebih penting,” ujar Erwin.

Selain Erwin, sejumlah tokoh masyarakat juga menerima penghargaan dalam Swarga Bara Awards 2026. Penghargaan diberikan kepada warga yang dinilai berkontribusi di berbagai bidang, mulai dari ketahanan pangan, penyuluh pertanian, pengabdian desa, kader desa inspiratif, atlet hingga pembina olahraga berprestasi.
Pemberian penghargaan kepada sosok yang dikenal kritis menjadi catatan menarik dalam kegiatan tersebut. Pemerintah Desa Swarga Bara seolah menunjukkan bahwa kritik tidak harus dibalas dengan jarak.
Justru, kritik yang disampaikan dengan tujuan mendorong perbaikan dapat menjadi bagian dari pembangunan. Penghargaan kepada Erwin pun menjadi simbol bahwa perbedaan pandangan dan kontribusi warga dapat berjalan beriringan dalam membangun desa.(Tio)


