Okewal.com, SANGATTA – Inovasi Dapur Stunting menjadi salah satu program unggulan Desa Singa Gembara, Kecamatan Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), dalam penilaian Desa Berkinerja Baik dalam Penanganan Stunting tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Penilaian tersebut merupakan bagian dari evaluasi pelaksanaan Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (P3S) yang dilakukan secara berjenjang.
Dalam proses penilaian, tim Pemerintah Provinsi Kaltim menggali berbagai aspek kinerja Desa Singa Gembara, mulai dari perencanaan program, pemanfaatan data, pelaksanaan kegiatan hingga inovasi yang dikembangkan untuk mendukung penanganan stunting.
Sejumlah indikator turut menjadi perhatian, di antaranya pelaksanaan pra-musyawarah perencanaan pembangunan (pra-musrenbang), pemanfaatan aplikasi Electronic Human Development Worker (EHDW), serta keterlibatan masyarakat dan lintas sektor dalam pelaksanaan program.
Tim penilai terdiri dari perwakilan Bappeda, Dinas Kesehatan, Tim Penggerak PKK, Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat, serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMDes) Provinsi Kaltim.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penilaian yang diinisiasi Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal. Desa peserta diberi kesempatan memaparkan program, capaian dan strategi yang diterapkan dalam menangani persoalan stunting di wilayah masing-masing.
Proses penilaian berlangsung sekitar 45 menit. Desa Singa Gembara mendapat waktu 15 menit untuk mempresentasikan kinerja dan inovasinya, kemudian dilanjutkan sesi pendalaman melalui tanya jawab selama 30 menit.
Salah satu inovasi yang menjadi materi pemaparan adalah Dapur Stunting. Program ini dirancang untuk menggabungkan pemberian intervensi gizi dengan edukasi kepada keluarga, khususnya mengenai kesehatan ibu dan anak.
Kepala Desa Singa Gembara, Hamriansi Kassa, mengatakan Dapur Stunting dibangun berdasarkan kebutuhan masyarakat yang sebelumnya dibahas melalui musyawarah di tingkat dusun dan RT.
“Dapur Stunting ini bukan hanya tempat membuat makanan sehat. Kami ingin tempat ini juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkonsultasi dan mendapatkan edukasi mengenai gizi, kesehatan ibu dan anak, serta bagaimana mencegah stunting sejak dini,” kata Hamriansi.
Menurutnya, pemberian makanan bergizi tidak cukup jika tidak dibarengi dengan peningkatan pengetahuan orang tua. Pemahaman keluarga menjadi bagian penting agar pola makan dan pengasuhan yang mendukung pertumbuhan anak dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui Dapur Stunting, masyarakat diarahkan memperoleh informasi mengenai kebutuhan gizi dan tumbuh kembang anak. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan, tidak hanya dalam memenuhi kebutuhan gizi anak dalam jangka pendek, tetapi juga meningkatkan kesadaran keluarga.
Untuk memperkuat pengelolaan program, Pemerintah Desa Singa Gembara telah menerbitkan SK Penunjukan Pengelola Dapur Stunting. Pelaksanaannya juga mendapat dukungan PT PAMA serta Pemerintah Daerah melalui APBDes 2025, terutama pada sektor kesehatan dan pendidikan.
Hamriansi menyebut dukungan lintas sektor menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan program. Menurutnya, penanganan stunting tidak dapat dilakukan pemerintah desa sendiri, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat, dunia usaha dan berbagai unsur lainnya.
“Target akhirnya bukan hanya desa berkinerja baik, tetapi bagaimana anak-anak kita tumbuh sehat, generasi kita kuat, dan masyarakat semakin memahami pentingnya gizi dan kesehatan,” ujarnya.
Keikutsertaan Desa Singa Gembara dalam penilaian tingkat provinsi menjadi momentum untuk mengukur efektivitas berbagai program yang telah dijalankan sekaligus melihat ruang perbaikan ke depan.
Bagi pemerintah desa, penilaian tersebut bukan semata mengejar predikat desa berkinerja baik. Lebih jauh, evaluasi menjadi dorongan untuk memperkuat inovasi dan memastikan upaya pencegahan stunting tetap berjalan secara berkelanjutan di tengah masyarakat.(Tio)


