OKEWAL.COM, KUTIM – Krisis air baku mengancam layanan Perumda Air Minum (Perumdam) Tirta Tuah Benua (TTB) Cabang Kaliorang dan Sangkulirang.
Hasil peninjauan lapangan terpadu di kawasan hutan Kecamatan Kaliorang, Selasa (9/6), menemukan sumber mata air utama di kawasan PT Api-api menyusut drastis akibat perambahan hutan.
Dari semula terdapat empat titik sumber mata air, kini hanya tersisa satu titik yang masih aktif. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan debit air baku yang digunakan untuk melayani 3.827 pelanggan di Kecamatan Kaliorang dan Sangkulirang.
Saat ini, debit air yang masuk ke bak penampungan hanya berkisar 12 hingga 15 liter per detik. Padahal, kebutuhan ideal untuk menjamin distribusi air bersih kepada seluruh pelanggan mencapai 40 hingga 50 liter per detik.
Menyikapi kondisi tersebut, Plt Camat Kaliorang Pitriani bersama Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang Takimbudi Asmuri melakukan peninjauan langsung ke area tangkapan air (catchment area).
Kegiatan yang berlangsung sekitar pukul 11.05 WITA itu turut melibatkan unsur Forkopimcam, Polsek, dan Babinsa Kaliorang.
“Saat kami melakukan survei, ditemukan beberapa titik kawasan hutan yang telah dibuka atau dirambah. Hal inilah yang membuat debit air di bak penampungan menurun drastis karena sumber mata air kita menyusut dari empat titik menjadi sisa satu titik saja,” ungkap Plt. Camat Kaliorang, Pitriani.
Berdasarkan hasil peninjauan tersebut, pemerintah kecamatan bersama pihak terkait berencana melakukan penghijauan kembali di sejumlah kawasan hutan yang telah gundul sebagai langkah penanganan awal. Namun, upaya tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi kebutuhan air baku dalam jangka panjang.
Pitriani mengakui satu-satunya mata air yang tersisa saat ini tidak lagi mampu menopang kebutuhan dua kecamatan secara berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah mulai mengkaji alternatif sumber air baru di kawasan Gunung Sakrat.
“Jangan sampai saat kita beralih ke Gunung Sakrat, dampaknya akan serupa seperti hari ini akibat kita tidak menjaga kelestarian hutan. Jika bukan kita yang menjaga, siapa lagi? Apakah kita tega membiarkan generasi mendatang tidak bisa menikmati kekayaan alam kita?” tegas Pitriani.
Sementara itu, Kepala Perumdam TTB Cabang Kaliorang-Sangkulirang, Takimbudi Asmuri, menyebut pihaknya juga menyiapkan alternatif lain melalui pemanfaatan sumber air yang terintegrasi dengan pengoperasian Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy yang ditargetkan mulai berjalan pada akhir Juli 2026.
Pemerintah Kecamatan Kaliorang berharap penanganan krisis air baku ini mendapat dukungan serius dari Pemerintah Kabupaten Kutai Timur maupun pihak perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut. Upaya perlindungan kawasan hulu dinilai menjadi langkah mendesak untuk menjaga keberlanjutan sumber air bagi masyarakat.
“Kami sangat berharap Pemerintah Kabupaten Kutai Timur bisa memberikan perhatian khusus terhadap kondisi alam di Kecamatan Kaliorang, terkhusus untuk mengamankan suplai air baku Perumdam ini,” pungkas Pitriani.(*/Fanry)


