SANGATTA, Okewal.Com — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Kerukunan Bulukumba (KMB) Kutai Timur tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengingat kembali nilai-nilai leluhur masyarakat Bulukumba di tanah rantau.

Kegiatan yang berlangsung Ahad, 1 Rabiul Akhir 1448 H atau 13 September 2026 tersebut dihadiri Ketua DPRD Kutai Timur Jimmi, SR, MT dan Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi, SE, MM, bersama keluarga besar serta warga KMB Kutai Timur.

Mengusung tema “Meneladani Akhlak Nabi, Mengokohkan Ukhuwah: Mali Siparappe, Tallang Sipahua di Tanah Rantau”, peringatan tersebut menempatkan nilai agama, budaya dan persaudaraan sebagai satu kesatuan.

Ketua KMB Kutai Timur, dr. Fathurrahman, menyampaikan terdapat sejumlah warisan nilai masyarakat Bulukumba yang dinilai tetap relevan untuk dipertahankan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Nilai pertama adalah kesederhanaan dan kerendahan hati yang tercermin dalam masyarakat Ammatowa/Kajang. Menurutnya, nilai tersebut mengajarkan pentingnya menjalani kehidupan secara sederhana, menjaga keseimbangan dengan sesama maupun alam, serta mempertahankan jati diri di tengah perubahan zaman.

Nilai kedua berkaitan dengan jiwa petualang masyarakat Bulukumba yang sejak dahulu dikenal dekat dengan tradisi maritim dan pembuatan kapal. Kemampuan melintasi samudra dan beradaptasi dengan lingkungan baru menjadi gambaran keberanian masyarakat Bulukumba untuk merantau tanpa meninggalkan akar budaya.

Sementara nilai ketiga adalah keuletan dan kerja keras yang tercermin dari warisan masyarakat sebagai petani.

“Ketiga nilai tersebut merupakan bagian dari jati diri yang perlu kita rawat. Kesederhanaan, keberanian merantau dan beradaptasi, serta keuletan dan kerja keras menjadi bekal penting bagi masyarakat Bulukumba di tanah rantau,” jelas dr. Fathurrahman.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi masyarakat Bulukumba yang kini hidup di berbagai daerah, termasuk Kutai Timur. Kehidupan di tanah rantau menuntut kemampuan beradaptasi sekaligus menjaga identitas dan hubungan sosial.

Sementara itu, Ketua DPRD Kutai Timur Jimmi mengajak masyarakat untuk memperbanyak doa dan meningkatkan kepedulian menghadapi berbagai tantangan, termasuk potensi bencana yang berkaitan dengan fenomena El Niño.

Menurutnya, ikhtiar dan doa perlu berjalan beriringan sebagai bentuk kepedulian terhadap keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.

Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi juga mengajak seluruh paguyuban dan organisasi kemasyarakatan untuk terus memperkuat silaturahmi dan persaudaraan.

Menurut Mahyunadi, paguyuban tidak semestinya hanya menjadi wadah berkumpul berdasarkan asal daerah. Keberadaannya juga diharapkan dapat menjadi kekuatan sosial yang ikut menjaga persatuan dan berkontribusi dalam pembangunan Kutai Timur.

Peringatan Maulid Nabi tersebut akhirnya menjadi pengingat bahwa kehidupan di tanah rantau bukan berarti harus meninggalkan akar budaya. Keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi landasan dalam membangun akhlak, sementara filosofi “Mali Siparappe, Tallang Sipahua” menjadi semangat untuk saling membantu dan menguatkan.

Bagi keluarga besar KMB Kutai Timur, menjaga persaudaraan sekaligus merawat nilai leluhur menjadi bagian penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tanah rantau.(Tio)